Sejarah Kelam Dan Asal Mula Perayaan Hari Valentine

Sejarah Kelam Dan Asal Mula Perayaan Hari Valentine

Sejarah Kelam Dan Asal Mula Perayaan Hari Valentine | omkepo.com – Valentine’s Day atau hari valentine telah diperingati oleh hampir seluruh penduduk dunia sejak dahulu kala semenjak abad ke 4 SM pada tiap-tiap tanggal 14 Februari. Di Indonesia sendiri sering disebut juga dengan hari kasih sayang. Meskipun bukan budaya asli Indonesia, namun banyak remaja kita yang turut merayakannya.

Mengenai sejarah hari valentine ini sebenarnya ada beberapa versi, namun versi yang paling terkenal dan paling diyakini kebenarannya adalah tentang dihukum matinya seorang pastor beragama Katholik Roma yang bernama Santo Valentine.

Menurut The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan, ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda-beda.

Versi Pertama berdasarkan (The World Book Encyclopedia, 1998).

Santo Valentine dihukum mati oleh kaisar Roma yang bernama Kaisar Claudius II. Pada masa kepemimpinannya, pernah terjadi perang besar sehingga Kaisar memiliki ambisi untuk membentuk pasukan militer yang hebat. Ia ingin semua pria di kerajaannya wajib militer dan bergabung di dalamya.

Namun rakyatnya menentang dan tidak mau mengikuti kebijakannya dengan suka rela. Mereka beralasan bahwa mereka sudah berkeluarga dan tidak mau mengalami hal buruk dikemudian hari akibat dari perang tersebut. Sebagian lain beralasan karena dalam waktu dekat mereka akan segera bertunangan atau menikah.


Baca Juga:

    Akibat dari penolakan ini, Kaisar sangat murka dan memutuskan untuk mengeluarkan aturan baru yang sangat tidak masuk akal, sangat gila dan sewenang-wenang. Kaisar memerintahkan kepada seluruh rakyat di bawah kerajaan Roma tidak boleh bertunangan atau melangsungkan pernikahan. Semua rakyatnya yang berjenis kelamin laki-laki harus mengikuti wajib militer. Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, maka mereka akan dengan senang hati bergabung dengan pasukannya.

    Sejarah Kelam Dan Asal Mula Perayaan Hari Valentine

    Kebijakan Kaisar ini mengakibatkan banyak sekali kehancuran dan ketidaktenteraman bagi rakyatnya. Banyak keluarga yang kehilangan suami dan/atau anak laki-laki mereka karena kesewenang-wenangannya.

    Karena kebijakan ini, Pastor Santo Valentine menolaknya dan tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta. Dari biara kecil di daerah Roma, secara diam-diam sang pastor tetap memberikan pemberkatan pernikahan bagi pasangan-pasangan yang berniat untuk menikah dan kemudian menyembunyikan sertifikat mereka dengan baik.

    Hal ini berlangsung terus menerus, sampai akhirnya rahasia kecil ini terbongkar. Setelah aksi ini diketahui, Kaisar pun murka dan langsung memberikannya peringatan, namun Valentine tidak menggubrisnya dan tetap memberkati pernikahan di dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

    Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan yang akan menikah. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malangnya St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati.

    Selama berada di penjara, St. Valentine berkenalan dengan anak gadis dari kepala sipir penjara. Gadis itu secara rutin menemui pastor dan mereka saling bertukar cerita kesukaan juga kesedihan masing-masing dari balik pintu penjara. Karena pertolongan dan kebaikan hatinya ini, banyak masyarakat pada saat itu yang menuntut pembebasannya.

    Namun Kaisar Claudius II tetap menjatuhkan hukuman mati kepada Valentine dengan memenggal kepalanya pada tanggal 14 Februari Tahun 270.

    Sehari sebelum hari kematiannya, pastor dengan nama Valentine itu membuat sebuah surat yang ditujukan kepada teman-temannya dan yang teristimewa untuk putri kepala sipir penjara yang dibubuhkan tulisan “from your Valentine”.

    Sejak kematian Valentine, kisahnya segera menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan (pengagungan).

    Semenjak itu, masyarakat menyebut hari itu sebagai Valentine’s Day.

    Menurut pandangan tradisi Roma kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

    Sedangkan pada tanggal 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.

    Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

    Pada tanggal tersebut para pendeta akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa.

    Pada acara ritual ini, para pemuda akan berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah tidak memiliki pasangan lagi, para wanita tadi pun akan melakukan hal yang sama kembali dan seterusnya.

    Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala.

    Setelah itu mereka meminum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

    Kurang lebih 800 tahun kemudian, ketika agama Kristen Katolik mulai berkembang, mereka menolak adanya Perayaan Lupercalia ini. Terutama dari golongan yang tidak percaya dengan hal-hal mistis (paganisme).

    Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepadanya.

    Mereka mendeklarasikan bahwa setiap tanggal 14 Februari adalah St. Valentine’s Day. Kemudian mengadopsi upacara paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan “Valentine Days”.

    Versi kedua, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

    Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinus-mu”. http://id.wikipedia.org/

    Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.

    Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, dimana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

    Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

    Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang tersebut menjadi semacam rutinitas ritual bagi kaum gereja untuk dirayakan. Agar tidak kelihatan formal, peringatan ini dibungkus dengan hiburan atau pesta-pesta.

    Jika kita telisik dari versi manapun tentang sejarah hari valentine di atas, dapat kita simpulkan bahwa hari valentine ini berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan penyembahan berhala dan pesta mabuk-mabukan. Kemudian ritual pagan ini diadopsi oleh ajaran agama kristen katholik roma dengan nuansa kristiani agar tetap bisa diterima masyarakat pada saat itu. Dimana tokoh Lupercus (Dewa kasih sayang) diganti menjadi Santo Valentine yang kebetulan meninggal sehari sebelum tanggal 15 Februari.

    Hari valentine juga merupakan hari penghormatan kepada tokoh Katholik Roma yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta yang pada perkembangannya pada saat ini, yang dikemudian hari perayaan valentine ini disamarkan dengan dihiasi dengan nama “hari kasih sayang”.

    Hari Valentine Dewasa Ini.

    Jika kita mengartikan valentine sebatas pada berbagi hadiah, coklat, mengucapkan rasa kasih sayang maka sesungguhnya kita telah keliru. V-Day tidak hanya berhubungan dengan hal-hal tersebut, akan tetapi juga identik dengan kondom dan seks bebas.

    Berdasarkan pantauan dari beberapa daerah, permintaan kondom menjelang valentine meningkat pesat. Di Kota Medan misalnya, berdasarkan pantauan dari wartawan Antara, ternyata ditemukan fakta bahwa penjualan kondom di apotek meningkat pesat. Parahnya, fenomena ini terjadi merata hampir di semua daerah.

    Pada dasarnya fenomena ini tidaklah aneh. Fakta lain pernah disampaikan oleh dr. Andik Wijaya, M. Rep.Med, seorang seksolog dari Surabaya.

    “Sekarang V-Day nuansanya cenderung romantis dan erotis” tuturnya.

    Tentu ini bukan omong kosong, salah satu faktor yang mengsukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas V-Day berupa coklat. Menurut dr. Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. voa-islam.com

    Atas dasar inilah mengapa kita umat Islam mengharamkan untuk merayakan hari valentine.

    Sudah selayaknya hari kasih sayang itu dilakukan setiap hari. Bukan untuk dirayakan apalagi diperingati setahun sekali.

    Demikian Sejarah Kelam Dan Asal Mula Perayaan Hari Valentine.

    Semoga bermanfaat..

    About OmKepo 73 Articles
    OmKepo merupakan media bagi kamu yang suka kepo berbagai informasi menarik meliputi teknologi, gadget, kesehatan, hiburan, lifestyle dan keajaiban dunia.

    Be the first to comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.