15+ Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional | omkepo.com – Masih bingung memilih mau menabung di Bank Syariah atau Bank Konvensional? Pahami hal-hal berikut ini agar Anda bisa menentukan pilihan Anda.

Pada artikel kali ini saya akan membahas tentang perbedaan bank syariah dengan bank konvensional.

Menurut peraturan UUD Republik Indonesia No. 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 mengenai perbankan, yang dimaksud dengan Bank adalah sebuah lembaga atau badan usaha yang menangani kebutuhan masyarakat dalam hal simpanan, membantu menyediakan jasa kredit kepada masyakat, dan dalam bentuk lain guna mensejahterakan rakyat banyak.

Jika ditinjau dari jenisnya, Bank dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu Bank Konvensional dan Bank Syariah.

Kedua jenis bank tersebut pada dasarnya sama saja, namun ada perbedaan mendasar antara bank syariah dengan bank konvensioal, yaitu terletak pada “istilah” yang digunakan dan “prinsip dasar layanan”.

Tuntutan akan adanya bank syariah diakibatkan besarnya penduduk muslim di Indonesia yang ingin terhindar dari riba. Ditambah lagi, masih banyak penduduk Indonesia yang belum menjadi nasabah bank sehingga bank syariah masih memiliki ruang besar untuk semakin besar.

Untuk lebih jelas mengenai perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional, mari kita lihat penjelasan berikut ini..

Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

Apa itu Bank Konvensional?

Bank Konvensional adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan berdasarkan jenisnya terdiri atas Bank Umum Konvensional dan Bank Perkreditan Rakyat.

Apa itu Bank Syariah?

Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluar-kan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.

Jenis Perbedaan Bank Syariah Bank Konvensional
Landasan Hukum Al Qur’an dan Sunnah + Hukum positif dan telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hukum positif
Skema Produk Berdasarkan syariah, semisal mudharabah, wadiah, murabahah, musyarakah, dan sebagainya Bunga
Perlakukan terhadap dana masyarakat Dana masyarakat merupakan titipan/investasi yang baru mendapatkan hasil bila diputar/diusahakan terlebih dahulu Dana masyarakat merupakan simpanan yang harus dibayar bunganya saat jatuh tempo
Sektor penyaluran dana Harus yang halal Tidak memperhatikan halal/haram
Organisasi Harus ada Dewan Pengawas Syariah (DPS) Tidak ada DPS
Perlakukan Akuntansi Accrual dan cash basis (untuk bagi hasil) Accrual basis

Landasan Hukum :

Bank syariah memiliki sistem yang berdasarkan pada syariat Islam yang berlandas Al-Qur’an, Hadist, dan Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia), sementara bank konvensional memiliki sistem yang berlandaskan hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Beberapa sistem transaksi pada bank syariah yang menggunakan perspektif hukum Islam di antaranya al-musyarakah (perkongsian), al-mudharabah (bagi hasil), al-musaqat (kerja sama tani), al-ijarah (sewa-menyewa), al-ba’i (bagi hasil), dan al-wakalah (keagenan).

Perbedaan Bank Syariah Dan Bank Konvensional Ditinjau dari Aspek Proses Bisnis-nya..

Perbedaan Aspek Bank Islam (Bank Syariah) Bank Konvensional
Investasi Investasi hanya untuk proyek dan produk yang halal Investasi tidak memperdulikan atau mempertimbangkan proyek tersebut halal atau haram
Return (Imbal Hasil dari investasi) keuntungan dari penggunaan modal dibagi sesuai dengan akad yang disepakati di awal. Bank syariah akan tetap memperhatikan kemungkinan untung atau rugi usaha yang dibiayainya tersebut. Return sesuai dengan keuntungan nasabah Bank konvensional menerapkan sistem bunga tetap atau bunga mengambang pada setiap pinjaman yang diberikan pada nasabah. Oleh karena itu, bank konvensional menganggap bahwa usaha yang dijalankan oleh nasabah akan selalu untung
Perjanjian / Aqad Perjanjian dibuat sesuai dengan hukum positif yang berlaku dan mengikuti akad yang sesuai dengan syariat Islam Perjanjian hanya menggunakan hukum positif sebagai dasar perjanjian
Orientasi bisnis Orientasi bisnis dalam pembiayaan tidak hanya untuk keuntungan saja, namun juga kepada falah oriented, yaitu berorientasi pada kesejahteraan masyarakat Orientasi pembiayaan adalah memperoleh keuntungan semata
Hubungan Bank dan Nasabah Hubungan bank dan nasabah adalah sebagai mitra Hubungan antara bank dan nasabah adalah sebagai kreditur dan debitur
Dewan Pengawas Dewan pengawas terdiri dari BI, Bapepam, Komisaris dan adanya Dewan Pengawas Syariah Dewan pengawas terdiri dari BI, Bapepam, Komisaris
Penyelesaian Sengketa Penyelesaian sengketa diupayakan mendahulukan musyawarah antara bank dan nasabah. Jika jalan temu tidak tercapai maka diselesaikan di Pengadilan Agama Penyelesaian sengketa melalui pengadilan negeri setempat.

Investasi

Pada bank syariah, nasabah akan diperkenankan meminjam dana apabila jenis usaha yang diajukannya adalah usaha yang halal dan baik, seperti pertanian, peternakan, dagang, dan lain sebagainya.

Sementara itu, pada bank konvensional, seseorang boleh mengajukan pinjaman terhadap usaha-usaha yang diizinkan atas hukum positif. Usaha yang tidak halal tapi diakui hukum positif di Indonesia dan akan tetap diterima dalam pengajuan pinjaman.


Baca Juga:

    Return (Imbal Hasil Dari Investasi)

    Bank konvensional menerapkan sistem bunga tetap atau bunga mengambang pada setiap pinjaman yang diberikan pada nasabah. Oleh karena itu, bank konvensional menganggap bahwa usaha yang dijalankan oleh nasabah akan selalu untung.

    Pada bank syariah, keuntungan dari penggunaan modal dibagi sesuai dengan akad yang disepakati di awal. Bank syariah akan tetap memperhatikan kemungkinan untung atau rugi usaha yang dibiayainya tersebut.

    Jika dirasa tidak menguntungkan, bank syariah akan menolak pengajuan pinjaman nasabahnya.

    Perjanjian (Aqad)

    Dalam bank syariah akad (perjanjian) dibuat berdasarkan hukum islam dan hukum positif.

    ..sementara pada bank konvensional akad (perjanjian) dibuat hanya berdasarkan hukum positif

    Beberapa ketentuan akad dalam bank syariah :

    • Adanya rukun : penjual, pembeli, barang, harga, dan ijab qabul;
    • Adanya syarat : barang dan jasa harus halal, harga barang dan jasa harus jelas, tempat penyerahan harus jelas, serta barang yang ditransaksikan harus dalam kepemilikan penjual.

    Orientasi bisnis

    Orientasi yang ada pada sistem bank konvensional semata-mata adalah orientasi keuntungan atau profit oriented.

    ..sementara pada sistem bank konvensional, orientasi yang digunakan selain orientasi keuntungan juga memperhatikan kemakmuran dan kebahagiaan hidup dunia akhirat atas kerjasamanya.

    Hubungan Bank dan Nasabah

    Pada bank syariah diterapkan sistem kemitraan, sementara pada bank konvensional hubungan nasabah dan bank disebut kreditur dan debitur.

    Dewan Pengawas Syariah (DPS)

    Selain beberapa perbedaan prinsip operasional di atas, salah satu ciri yang membedakan antara bank Islam dengan bank konvensional adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada Bank Islam.

    DPS bertugas mengawasi segala aktivitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Dengan kata lain DPS bertanggung jawab atas produk dan jasa yang ditawarkan kepada masyarakat agar sesuai dengan prinsip syariah; investasi atau proyek yang ditangani oleh bank harus juga sesuai dengan prinsip syariah, dan tentu saja bank itu harus di-manage sesuai dengan prinsip syariah.

    Secara umum anggota pengawas syariah tentulah harus merupakan orang yang memiliki otoritas di bidang syariah. Mekanisme penentuan anggota Dewan Pengawas Syariah berbeda pada setiap negara.

    Di Indonesia, otoritas masalah keagamaan di bawah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kebingungan di kalangan umat akibat banyak dan beragamnya DPS.

    Penyelesaian Sengketa

    Jika pada perbankan syariah terdapat perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabahnya, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di Pengadilan Negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai tata cara dan hukum syariah di Pengadilan Agama.

    Lembaga yang mengatur hukum berdasar prinsip syariah di Indonesia dikenal dengan nama Badan Arrbitrase Muamalah Indonesia (BAMUI) yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia.

    Perbedaan Bank Syariah Dan Bank Konvensional Dalam Sistem Bunga Dan Bagi Hasil.

    No. Bunga Bagi Hasil
    1. Penentuan bunga dibuat sewaktu perjanjian tanpa berdasarkan kepada untung/rugi. Penentuan bagi hasil dibuat sewaktu perjanjian dengan berdasarkan kepada untung/rugi.
    2. Jumlah persen bunga berdasarkan jumlah uang (modal) yang ada. Jumlah nisbah bagi hasil berdasarkan jumlah keuntungan yang telah dicapai.
    3. Pembayaran bunga tetap seperti perjanjian tanpa diambil pertimbangan apakah proyek yang dilaksanakan pihak kedua untung atau rugi. Bagi hasil tergantung pada hasil proyek. Jika proyek tidak mendapat keuntungan atau mengalami kerugian, maka resikonya ditanggung kedua belah pihak.
    4. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat walaupun jumlah keuntungan berlipat ganda. Jumlah pemberian hasil keuntungan meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan yang didapat.
    5. Pengambilan/pembayaran bunga adalah haram. Penerimaan/pembagian keuntungan adalah halal

    Referensi :
    ekonomi-islam.com, tentang perbedaan bank syariah dengan bank konvensional

    Demikian 15+ Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional,

    Tentukan pilihan Anda, semoga bermanfaat..

    About OmKepo 73 Articles
    OmKepo merupakan media bagi kamu yang suka kepo berbagai informasi menarik meliputi teknologi, gadget, kesehatan, hiburan, lifestyle dan keajaiban dunia.

    Be the first to comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.